Pages

Senin, 17 Oktober 2011

CERITA RAMA TAMBAK

Aduuuuh, ngehek bener nih", umpat Bung Rama sembari garuk-garuk kepala.

Apa pasal? Perjalanan balantentara kera Bung Rama terpaksa mandeg di pantai pariwisata Mahendra. Di depan matanya terbentang lautan maha luas. Maka, untuk bisa merebut kembali Dewi Sinta, Bung Rama beserta balatentaranya harus menyeberangi lautan, demikian penjelasan Travelbiro Mahendra, yang sahamnya dimiliki kluwarga Alengka. Waah.....wah....., mana tahaan....

Apalagi, karena laju armada perang Bung Rama terhenti, serdadu-serdadu kera itu lantas memanfaatkan peluang baek buwat menyerbu Supermarket, meludeskan pisang, selai pisang, kolak pisang atow pisang goreng. Maklum lah, semenjak nilai mata uang Dolar terus meroket, anggota-anggota laskar pasukan Bung Rama pada sibuk menimbun pisang. Dan situasi ini tentu membahayakan kubu Prodem (Pro ngeDepak Majikan). Alih-alih berniat menyerbu Alengka, tujuan pun terhenti mengisi perut duluan.

"Gimana bung, apa kita perlu nelepon Ankel Sem, minta pinjaman Armada VII?", tanya Bung Rama kepada komandan kera, Bung Sugriwa.

"Wah, sebaeknya zangan bung", saran Bung Sugriwa. "Lebih baek kita berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) saza lah".

"Wah nada-nadanya kok kayak Orla saza nih. Ogah, ah", Bung Rama langsung membantah.

Lantas kedua Bung itu terlibat dalam perdebatan sengit, mencoba merumuskan kembali cara-cara mana yang mirip Orla dan cara-cara mana yang tulen Orba. Hampir saja, Bung Sugriwa mogok. Tentu saja, situasi menjadi kisruh. Itu lah pasalnya, sebelon menyerang Alengka, tak pernah diselenggarakan dialog nasional.

Dalam keadaan panas itu, untung lah Bung Wibisana ikut urun rembug. "Bung Rama", ujarnya lemah lembut.

"Saya barusan membaca internet. Ankel Sem sedang berada dalam kesulitan. Dia harus membuktikan diri, bahwa dia tidak pernah melakukan perlecehan sensuwal. Nah, kalow sekarang kita meminjam kapal Armada VII, Ankel Sem bisa tambah kewalahan. Dia harus menjelaskan, knapa dia meminjamkan kapal-kapalnya kepada kita. Alasan untuk merebut Dewi Sinta ada lah alasan yang justru bisa membikin dia tambah repot. Nanti DPR Amerika Sarekat malah menyudutkan Ankel Sem. Bisa-bisa dia dituduh telah melakukan perlecetan sensuwal dengan Dewi Sinta. Kalow tidak, knapa dia punya interes begitu besar, mau nimbrung merebut kembali Dewi Sinta?".

Bung Rama terdiam.

Sebaliknya, Bung Sugriwa tampak mengurai senyum, seolah mendapat bantuan. Bung Sugriwa sih sesungguhnya bukan Orla, tapi dia itu pejuang 45 -- dus mbahnya Orla.

Peranan Bung Wibisana ini, sebetulnya agak aneh. Sebelon bergabung dengan Bung Rama dan Bung Sugriwa, dia itu ada lah anggota dewan pakarnya intelektualnya Alengka. Tearkhir-akhir ini, dia kerap mbalelo, kerap menentang kebijaksanaan Presiden Rahwana.

Dia pula lah yang paling keras menentang penyerobotan Dewi Sinta. Memonopoli gadis-gadis gembrot di jagatraya -- apalagi dengan biaya pemerintah, kata Bung Wibisana, sangat membahayakan kehidupan bernegara.

Memang, dalam soal ukuran tubuh, Presiden Rahwana, pengennya memonopoli cewek tergembrot.

"Bawa rejeki", kilahnya.

Alhasil, Presiden Rahwana pun lantas menyerobot cewek impiannya via jurus Serangan Umum Enam Jam -- serba ekstra cepat dan kilat. Cuma, keliru. Sebab, Dewi Sinta itu ternyata mantan supermodel kerajaan Mantili, yang lekuk tubuhnya bak lika-liku kehidupan. Serba ruwet, misterius dan memancing razia. Kalow dikunyah, bak kuaci cap Gajah. Jadinya, terus menerus kebelet memamah.

"Sekali-kali keliru, nggak apa-apa", katanya dalam hati.

Dan memang. Jangankan sekali-kali, sering keliru pun juga boleh. Wong, falsafah hidup warga Alengkadirja itu mikul dhuwur mendhem jero kok. Kalow tidak menganut falsafah ini, yaaa dipukul donk.

Perbuatan asal maen serobot ini lah, yang kurang berkenan di hati Bung Wibisana. Karena terlalu vokal dia punya bacot, dia lantas didepak sama Presiden Rahwana.

Lengser dari sana, dia langsung bergabung dengan Bung Rama dan Bung Sugriwa. Anak-buahnya desersi, lantas mengekor dia. Bung Wibisana itu SDMnya luar biasa. Dia pun dilengkapi peralatan canggih, umpamanya laptop model mutakhir. Dengan peralatan canggih ini lah, dia sanggup membaca situasi marcapada secara cepat, dan mengambil kesimpulan serba tepat.

"Lha kalow nggak pinjam kapal-kapalnya Ankel Sem, bagaimana kita bisa menyeberang-kan pasukan-pasukan kita ke Alengka?", Bung Rama bertanya. "Buwat melintasi samu-dera tentunya perlu menggunakan motor boat. Pada hal prajurit kera yang hendak disebe-rangkan, paling sedikit sejuta jumblahnya, maka diperlukan kurang lebih sejuta motor boat. Bagaimana pendapat Bung Sugriwa?".

"Bikin motor boat itu bukan pekerjaan enteng, Bung", jawab Bung Sugriwa. "Soalnya, bahan untuk itu pun agak repot. Kita musti ada menebangi hutan. Sejak musibah kebakaran, kita nggak punya cadangan kayu yang cukup. Lagian, sejak kolor nilai Rupiah terus melorot, mana tahaaaan kita punya devisa buwat membeli mesin? Apa mau nunggu sampe diberlakukannya CBS? ".

"Wah gimana bung ini. Nggak ada modal, eee pengen berdikari", gerutu Bung Rama.

"Nanti dulu Buoooong......, zuaangan kuatir", kata Bung Wibisana. "Beberapa hari lalu, saya mbukak hompeznya Kompas. Di situ saya membaca satu usul jeniusnya Bung Joop Ave. Dia mengusulkan, sebaeknya kita membikin tambak sazaaaa".

"Bung ini gila apa?!!", Bung Rama tersentak kaget. "Membuat tambak dari sini ke Alengka? Ini kan mega proyek yang bakal menguras dana kita. Ini kan ditolak sama IMF?".

"Wah, itu enteng", ujar bung Wibisana. "Saya sudah membuat proporsalnya. Dananya pun sangat murah. Bung Anoman, Bung Anila dan Bung Anggada itu insinyur-insinyur lulusan Blanda. Lagian, kita nggak perlu minta bantuan asing. Dan ini tentu menguntungkan kita, sebab dengan demikian Presiden Rahwana tidak lagi bisa ngoceh, bahwa kita dinafkahin oleh sponsor asing".

Bung Rama lantas mempelajari proporsal Bung Wibisana. Dan memang, murahnya luar biasa. Pasukan kera nggak usah dibayar.

Mereka bekerja sukarela. Cari makan pun sendiri pula. Maklum, setelah hutan habis kebakar, mereka pada menyerbu toko, warung, mall atow supermarket. Dan memboyong segala jenis pisang.

Saat itu, tekad mereka sudah bulat. Maklum, mereka sudah sewot, pengen hengkang saza dari hutan-hutan tempat mereka berdomisil, dan langsung menyerbu istana Alengka. Di sana, menurut sas-sus, tertimbun gudangan pisang. Sementara ini, di pantai Mahendra, banyak berjubel turis-turis asing, yang suka membagi-bagi pangan kesukaan balatentara Bung Rama. Lantas perlu apa lagi?

Membaca proporsal Bung Wibisana yang meyakinkan itu, akhirnya Bung Rama pun menyetujuinya. Maka, dibuat lah tambak. Berbagai halangan mereka temui. Badai laut harus mereka hadapi. Setelah itu, LSM-LSM domestik dan sabrangan pada protes lantaran pengerukan batu-batu dan tanah yang dituding telah merusak lingkungan.

Setelah itu, ABRInya Alengka berusaha menggagalkan laju pasukan kera. Taktiknya jelas: Polisi di depan, Tentara di blakang -- agar gampang ngacrit kalow ada apa-apa.

Setelah rintangan ini diterobos, balatentara kera harus bertanding melawan Paswalpres Alengkadirja, yang kesohor sangat tangkas dalam ilmu perang. Namun, pasukan-pasukan Rahwana yang gagah perkasa itu tumbang satu persatu. Mana mereka tahan, wong pasukan kera itu perangnya nggak pake taktik dan aturan. Para komandannya pun, mana pernah ke Breda, Bundeswehr di Hamburg atow Westpoint. Paling top sempat ikut maen sirkus beberapa kali. Pokoknya, nyerbunya asal maen kroyok saza -- persis maen futbolnya Amerika Sarekat.

Seorang serdadu Alengkadirja, dikeroyok puluhan, bahkan ribuan kera. Ada yang matanya dicongkeli, ada yang giginya diprotoli, ada yang telinganya digrogoti, ada yang lubang hidungnya dikoreki, ada yang kumisnya dicabuti, ada yang tubuhnya dicakari, ada yang pisangnya dipatuki. Bahkan, ada yang dijilati -- diperlakukan seolah selai pisang. Pokoknya, mengerikan sekali deh. Yang pernah mendengar kisah Rama Tambak, bulu kuduknya pasti berdiri -- terkecuwali Joop Ave yang fansnya selai pisang, tentunya.

Setelah pasukan dan para panglima perang Alengkadirja ludes, mau tak mau, Presiden Rahwana harus turun ke medan danalaga.

"Saya gebug kaliyan!!", hardiknya bak guntur di siang bolong. "Kaliyan tak konstitusi-yonal!"

Balatentara kera itu terbloon-bloon, terkesirap oleh getaran hardikan Presiden Alengka. Dia ini kesohor super sakti. Dia memiliki ajian Rawarontek dan Pancasona, yang membuat dia kagak bisa KO. Begitu tubuhnya gelosotan menyentuh tanah, eeee, berkat aji Rawaron-tek, dia hidup kembali -- apalagi kalow lahan-nya bertendensiuskan bisnis. Begitu tubuhnya mbrodol dan tersapu silirnya angin dan gemerisik getaran irama Aku Cinta Rupiah, eeee, berkat aji Pancasona, dia bangkit kembali. Bolak-balik begitu terus: Keliatannya mau cabut dari takhanya, eee, malah orang-orang yang dekat dan yang dikasihinya dut duluan; lagaknya kayak orang lengser, eeee, malah lawan-lawannya yang longsor.

Kubu Aliansi Rama-Sugriwa-Wibisana tentu kewalahan. Tadinya, mereka kecewa. Kok kebenaran nggak pernah menang. Karena sudah empet, maka mereka maen mata gelap plus jurus-jurus non-Timur. Presiden Rahwana tak dilayani dengan ilmu-ilmu perang. Soalnya, Presiden Rahwana, Jenderal berbintang lima itu, memang pendekarnya perang.

Akhirnya, taktik dirubah. Dalilnya: Kebenaran ditambah maen kayu di sana sini merupakan cara yang memungkinkan untuk bisa mengalahkan rezim sakti. Jurus Prodem disenyawakan dengan jurus prokem, asal pro kemenangan. Presiden Rahwana lantas didemo. Dicaci maki. Diejek. Kepalanya dikemplangi. Pokoknya, harga dirinya melorot bak Rupiah. Alhasil, jantungnya mogok, tak kuat menahan malu.

"Lho, kaliyan perangnya kok tidak ksatria?", keluhnya sebelon lengser.

Sebelon teler, tubuhnya cepat-cepat dicemplungkan ke lubang kakus. "Seif is seif", ujar Bung Rama. Yaaa, agar tubuh Presiden Rahwana tak menyentuh tanah dan tak tersepoi-sepoi silirnya irama lagu Aku Cinta Rupiah. Tak telak, dia lalu lengser keprabon, madeg bangkai.

Dewi Sinta akhirnya pun kembali kepangkuan Bung Rama. Perjuangan merebut Dewi Sinta, memang tidak gampang.

Alih-alih menamsilkan Dewi Sinta sebagai Dollar AS seperti Joop Ave, kubu Prodem alias pro ngeDepak Majikan menyulap Dewi Sinta menjadi Sitaan Nepotismenya isTAna.

"Aaaagh, kalow nggak ada Bung Joop, mana mungkin perjuangan berhasil", ujar Bung Rama sambil mengecupi Dewi Sinta -- mirip Joop mengecuti selai pisang.

Asyiiiiiiiknya......................... [TAMAT]
Kembali ke Daftar Isi
1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar